Sabtu, 10 November 2018

Patah Hati Bisa Membunuhmu ?

Patah Hati Bisa Membunuhmu ?

Berpisah dengan orang yang kita cintai memang menyebabkan patah hati yang menyakitkan.

Apalagi, jika perpisahan itu disebabkan oleh takdir yang tak dapat kita tolak.

Para peneliti di Rice University  membuktikan, orang yang dilanda kesedihan akibat kehilangan orang yang dicintai, berisiko menderita peradangan yang berujung pada kematian.

Sebaliknya, mereka yang tak terlalu larut dalam kesedihan saat ditinggal orang terkasih, memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik.

Pemimpin penelitian Chris Fagundes mengatakan, riset sebelumnya menunjukkan peradangan berkontribusi pada hampir setiap penyakit yang diderita orang yang berusia lanjut.

“Dan, kami juga tahu depresi terkait dengan tingkat peradangan yang lebih tinggi."

"Sehingga, mereka yang kehilangan pasangan berisiko tinggi mengalami depresi berat, serangan jantung, stroke, hingga kematian dini," ucapnya.

Namun, ini adalah riset pertama yang mengonfirmasi fenomena tersebut, terlepas dari tingkat gejala depresif yang dapat meningkatkan peradangan.

Pada gilirannya, peradangan tersebut dapat menyebabkan hasil kesehatan yang negatif.

Dalam riset ini, peneliti menganalisis 99 orang yang baru saja kehilangan pasangan. Para responden ini pun diminta memberikan sampel darah.

Setelah itu, peneliti mengklasifikasikan peserta berdasarkan tingkat kesedihan mereka.

Pertama, mereka yang mengalami kesedihan besar karena tak bisa menerima kehilangan, dan kedua, mereka yang bisa menerima kepergian orang yang disayanginya.

Hasilnya, mereka yang mengalami kesedihan mendalam memiliki tingkat peradangan 17 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki gejala kesedihan yang lebih rendah.

Faktanya pula, sepertiga teratas orang yang paling larut dalam kesedihan mendalam memiliki tingkat peradangan 53,4 persen lebih tinggi, daripada sepertiga peserta yang mengalami kesedihan paling ringan.

"Riset ini menunjukkan siapa, di antara mereka, yang paling berkabung memiliki risiko tertinggi," kata Fagundes.

Menurut dia, riset ini telah membantu untuk menekan faktor risiko melalui pendekatan perilaku atau farmakologis.

Berdasarkan laporan Study Finds, riset ini didukung oleh National Heart, Lung and Blood Institute, dan telah diterbitkan dalam jurnal Psychoneuroendocrinology.

Hasil riset juga mengungkap, wanita yang kehilangan orang terkasih, 41 persen berisiko tinggi mengalami kematian dalam enam bulan setelah peristiwa yang membuatnya bersedih itu.

0 komentar:

Posting Komentar